Rabu, 22 April 2015

Batuk Lama (Kronis) pada Anak

Oleh: dr Sony Prabowo, Sp.A'IMG_2500' photo (c) 2009, Aaron Goodman - license: http://creativecommons.org/licenses/by-nd/2.0/
Batuk pada anak dapat disebabkan berbagai penyebab yang terdapat di sepanjang  saluran napas, mulai hidung sampai paru-paru.
Batuk kronis (berlangsung lama) pada anak didefinisikan sebagai batuk setiap hari yang berlangsung selama lebih dari 3 minggu. Bila terdapat batuk lebih dari 3 minggu, maka perlu berkonsultasi dengan dokter dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Penyebab

Sering terjadi :
  • Infeksi, antara lain disebabkan oleh : respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus,Mycoplasma pneumoniaechlamydial pneumonia, batuk rejan (pertussis) dantuberculosis (TBC) paru.
  • Asma.
  • Postnasal drip syndrome, antara lain : Rhinitis dan Sinusitis
  • Faktor lingkungan : asap rokok, debu, gas yang berbahaya bagi tubuh.
  • Gastro-esophageal reflux.
Jarang terjadi :
  • Benda asing di saluran napas.
  • Cystic fibrosis.
  • Gangguan system kekebalan tubuh
  • Kelainan kongenital (sejak lahir), contoh : tracheo esophageal fistula,tracheomalacia.
  • Ciliary dyskinesia.
  • Batuk psikogenik, biasanya batuknya tampak tidak lazim, mirip seperti suara klakson, menurun bahkan hilang saat tidur atau sedang berkonsentrasi melakukan aktivitas tertentu.

Petunjuk terhadap penyebab tertentu dari batuk

Waktu Permulaan
  • Timbul sejak baru lahir – pertimbangkan kelainan kongenital, aspirasi(masuknya susu/cairan lain ke paru-paru), infeksi paru, Cystic Fibrosis.
  • Timbul tiba-tiba (akut) – pertimbangkan benda asing di saluran napas.
Penyakit Umum
  • Anak tampak sehat, tidak ada gejala lain – pertimbangkan batuk nonspesifik, bronchitis virus berulang, batuk psikogenik, batuk karena kebiasaan (batuk kering berulang yang hilang saat tidur).
  • Anak tampak sakit atau menderita radang paru berulang – pertimbangkan kemungkinan tuberculosis (TBC) paru, benda asing di saluran napas, Cystic Fibrosis, gangguan kekebalan tubuh, bronchitis menetap, aspirasi berulang.
Jenis batuk
  • Disertai wheezing (mengi) atau sesak napas – pertimbangkan asma, benda asing pada saluran napas, aspirasi paru berulang, penyakit jantung, penekanan pada saluran napas, tracheobronchomalacia, bronchiolitis (infeksi pada saluran napas kecil di paru-paru).
  • Disertai sesak napas dan restriksi paru :  interstitial lung disease.
  • Batuk terjadi tiba-tiba dan terus menerus diikuti dengan tarik napas yang panjang :  batuk rejan
  • Batuk kering, suara parau, seperti suara anjing menyalak atau klakson, terdengar tidak lazim : pertimbangkan iritasi/peradangan pada trachea atau glottis (saluran napas di daerah tenggorokan) atau penyebab psikogenik.
  • Batuk yang terdengar berdahak (anak-anak biasanya tidak dapat mengeluarkan dahak tetapi cenderung menelannya) – pertimbangkan bronchiectasis atau infeksi paru lainnya, eg cystic fibrosis.
  • Batuk membandel dan bertambah parah – perimbangkan benda asing di saluran napas, pengempisan pada lobus paru-paru, tuberculosis (TBC), tumor di paru-paru yang berkembang cepat.
  • Batuk berdarah – pertimbangkan pneumonia (infeksi paru-paru), abses paru (nanah di paru-paru), bronchiectasistuberculosis (TBC), hipertensi pulmoner.
Pencetus
  • Batuk yang dipicu saat olahraga / aktivitas fisik, gembira berlebihan, udara dingin, terjadi saat malam, perubahan lingkungan – pertimbangkan asma.
  • Batuk saat makan/minum/menelan : aspirasi berulang.
  • Batuk saat berbaring : postnasal drip (sinusitis, rhinitis), gastro-eesophageal reflux.
  • Batuk saat diperhatikan orang lain : psikogenik.
  • Batuk yang dipicu oleh obat golongan ACE inhibitor. 

Tanda Bahaya

Bila batuk pada anak disertai dengan tanda-tanda berikut ini, maka harus segera berkonsultasi dengan dokter.
  • Batuk mulai sejak bayi baru lahir.
  • Mulai tiba-tiba dan berat.
  • Sesak napas
  • Batuk darah.
  • Batuk tiap saat minum/makan, sulit menelan, disertai muntah hebat.
  • Batuk berdahak yang lama.
  • Keringat dingin saat malam, berat badan turun, nafsu makan berkurang.
  • Batuk berkepanjangan dan semakin memburuk.
  • Riwayat keluarga dengan penyakit paru yang berat.

Penanganan

  • Disesuaikan dengan diagnosis penyakit secara spesifik. Sejauh mungkin pengobatan disesuaikan dengan penyebab penyakitnya.
  • Pada anak yang terlihat sehat dan tidak ada tanda bahaya seperti tersebut di atas, perlu ditunda pemeriksaan yang invasif.
  • Jauhkan kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan batuk, misal : asap rokok, debu dsb
  • Obat untuk menekan batuk (golongan antitussive) sebaiknya dihindari diberikan pada anak-anak.

Televisi Dapat Memperbaiki Perilaku Anak

Televisi berpengaruh besar terhadap anak-anak. Mereka kebanyakan meniru perilaku yang mereka lihat di layar televisi, baik atau buruk. Mengganti saluran televisi dari acara kekerasan ke acara pendidikan dapat memperbaiki perilaku anak-anak prasekolah. Studi terkini yang diterbitkan di jurnal Pediatricsmenyebutkan bahwa daripada mencoba untuk membatasi menonton televisi, yang terbaik adalah mengganti saluran televisi ke acara yang mendorong perilaku positif.
“Solusinya bukan hanya mematikan televisi, tetapi juga mengubah saluran. Apa yang anak-anak tonton sama pentingnya dengan berapa banyak mereka menonton,” kata Dr Dimitri Christakis, seorang dokter anak dan peneliti di Seattle Children Research Institute.
Penelitian ini melibatkan 565 orangtua di Seattle, yang secara berkala mengisi buku harian menonton TV dan kuesioner yang mengidentifikasi perilaku anak mereka. Setengah orangtua selama enam bulan hanya membolehkan anak-anak mereka yang berusia 3-5 tahun untuk menonton acara seperti “Sesame Street” dan “Dora the Explorer” yang mengajarkan sikap pro-sosial dan pelajaran hidup, daripada program yang sarat kekerasan seperti “Power Rangers.” Hasilnya dibandingkan dengan setengah anak-anak pada kelompok kontrol yang tidak mendapatkan intervensi apa pun.

Perilaku lebih positif

Dibandingkan dengan pada kelompok kontrol, anak-anak pada kelompok intervensi menghabiskan lebih sedikit waktu menonton acara kekerasan setelah 6 dan 12 bulan dibandingkan pada awal penelitian. Sebelum penelitian, anak-anak itu rata-rata menghabiskan 1 1/2 jam setiap hari di depan TV, video dan permainan komputer yang seperempat kontennya mengandung kekerasan.
Dalam enam bulan, anak-anak di kedua kelompok menunjukkan perilaku positif, namun skor pada kelompok intervensi 2,11 poin lebih tinggi daripada kelompok kontrol, yang menunjukkan adanya penurunan agresi dan peningkatan perilaku pro-sosial. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi itu berdampak positif terhadap perilaku anak-anak.
“Ini penting karena anak-anak berada pada risiko terbesar, baik untuk menjadi pelaku agresi, maupun menjadi korban agresi dalam kehidupan nyata,” kata Christakis.
Penelitian ini memiliki kelemahan karena para orangtua tidak diberitahu tujuan penelitian, tetapi penulis mengakui bahwa hal itu agar mereka tidak melakukan sesuatu yang mungkin memengaruhi hasil.

Tidak berlebihan

Namun demikian, orangtua tetap perlu memahami potensi risiko kesehatan yang terkait dengan menonton televisi berlebihan pada anak-anak. Sebuah studi sebelumnya yang diterbitkan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, telah menemukan bahwa kebugaran otot anak-anak berkurang pada setiap jam yang dihabiskan di depan televisi dan lingkar pinggang mereka menjadi lebih besar dari rata-rata ketika mereka mencapai usia remaja, yang berpotensi risiko kesehatan di masa dewasa mereka. Menurut rekomendasi American Academy of Pediatrics, anak-anak di bawah usia dua tahun tidak boleh menonton televisi lebih dari dua jam sehari.
————————-

Sabtu, 11 April 2015

Mengapa bayi menangis?

Menangis merupakan salah satu hal spontan dapat dilakukan oleh bayi saat lahir. Menangis merupakan cara bayi untuk berkomunikasi dengan lingkungannya pada awal hidupnya. Pada awalnya, meski menangis keras dan lama bayi tidak mengeluarkan air mata. Ini karena kelenjar air matanya baru memproduksi air mata dalam jumlah sedikit. Setelah kurang lebih 2-3 bulan barulah tangisan bayi disertai dengan air mata sebab produksi air matanya semakin meningkat.

Apa saja alasan dan cara mengatasi bayi yang menangis?
1. Lapar
Hal yang akan ditemui sehari-hari adalah bayi menangis karena lapar. Bayi berusaha memberitahu ibu bahwa ia lapar. Berikanlah ASI, atau bila terpaksa PASI, sesuai kebutuhannya. Selain itu tentunya perlu pantau pertumbuhan bayi untuk menilai kecukupan pemberian nutrisinya.

2.Mengompol/ buang air besar
Bayi  merasa tak nyaman bila popoknya basah/penuh. Segeralah ganti popoknya saat ia mengompol / buang air besar. Pada bulan-bulan awal, ia akan sering kencing dan buang air besar (minimal 5x dalam  sehari). Bila dibiarkan basah,  kulit bayi dapat mengalami iritasi dan timbul  kemerahan,  yang menyebabkan rasa tidak nyaman baginya.

3.Tidak nyaman
Kadang bayi menangis hanya karena perasaan tidak nyaman, misalnya kepanasan, kedinginan, atau ada bagian yang tertekan dari pakaiannya. Cobalah untuk menelaah ulang keadaan bayi dan berusaha untuk menghilangkan faktor yang membuat bayi merasa tidak nyaman.

4. Merasa sendiri
Sebagian bayi hanya menangis karena merasa sendiri. Ajaklah bayi bicara, menggendong dan mengayun bayi, serta memeluk bayi dapat meredakan tangisannya.

5. Lelah atau mengantuk
Bayi yang merasa terlalu lelah atau mengantuk juga akan menyampaikan kepada orang tuanya dengan cara menangis dan rewel. Orang tua dapat menidurkan/mengistirahatkan bayi di kamar yang redup, jauh dari keramaian, dan dengan memutarkan lagu-lagu yang menenangkan. Sebagian bayi juga tidak menyukai kegelapan, pasang lampu kecil pada kamar bayi agar bayi masih dapat melihat cahaya. Agar ia lebih tenang, temani bayi sampai ia tertidur.

6. Bosan
Ajaklah bayi bermain saat ia merasa bosan. Ajak bicara, bermain mainan sederhana sesuai usia dan perkembangannya. Ingat, sebisa mungkin, tidak mengajak ia bermain yang terlalu aktif atau membuatnya terlalu excited menjelang waktu tidur.

7.Kaget
Saat mendengar suara yang kencang dengan tiba-tiba reaksi anak karena kaget dapat menyebabkan bayi menangis. Angkat dan tenangkanlah bayi.

8. Nyeri/gatal
Saat bayi mengalami alergi atau masalah lain yang membuatnya nyeri, bayi akan menangis. Coba lihat daerah selangkangan bayi yang sering kali teriritasi bahan popok atau karena muncul infeksi jamur. Hal ini dapat menyebabkan nyeri yang menyebabkannya menangis. Selain itu perhatikan juga apakah ada gejala lain yang menyebabkan nyeri, misalnya demam, luka, atau adanya kemerahan yang menyebabkan rasa gatal/tidak nyaman. Coba cari penyebab nyeri pada bayi, bila ada memang ada sumbernya dan tidak dapat diatasi bawalah ke dokter.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews | Promo by Seputar Harapan Indah DOTcom