Jumat, 08 Mei 2015

Tanya Jawab Mengenai “Picky Eater”

Oleh: dr Sony Prabowo, Sp.A'Picky' photo (c) 2011, David Goehring - license: http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/
Banyak pertanyaan yang masuk melalui rubrik konsultasi kesehatan bayi dan anak mengenai anak batita/balita yang suka memilih-milih makanan (“picky eater”). Agar masalah ini tidak menjadi pertanyaan yang sama berulang-ulang, berikut ini kami sajikan tanya-jawab lengkap mengenai “picky eater”. Bagi para orangtua yang menghadapi masalah ini, silakan membaca tanya-jawab ini sebelum mengajukan konsultasi, barangkali yang akan Anda tanyakan sudah ada jawabannya.

Apakah “Picky Eater”?

Pada usia balita/sebelum sekolah, anak-anak sering sulit makan, tidak mau mencoba makanan yang baru, dan pertumbuhannya pun jadi lebih lambat dibandingkan saat di bawah usia 1 tahun. Hal ini seringkali menjadi keprihatinan para orang tua. Anak pemilih makanan ini, yang biasa dikenal dengan sebutan “picky eater”, memiliki karakteristik antara lain:
  • mengeluhkan makanan yang disajikan di meja makan
  • menolak beberapa makanan tertentu, terutama sayuran dan daging
  • meletakkan makanan yang tidak disukainya di tepi piring
  • menyembunyikan makanan yang tidak disukainya atau memberikannya pada hewan peliharaan di rumah
  • tetap mengkonsumsi makanan yang mencukupi kebutuhan kalori untuk pertumbuhannya secara normal.

Apa penyebabnya?

Anak-anak seperti halnya orang dewasa memiliki makanan yang disukai ataupun yang tidak disukainya. Pada usia 2-3 tahun sekitar 20% anak termasuk “picky eater”. Anak biasanya tidak menyukai makanan yang terasa pahit maupun pedas dan masam. Terkadang anak tidak menyukai makanan karena warnanya tidak menarik, tetapi lebih sering karena makanan tersebut sulit untuk dikunyah. Anak-anak menyukai daging yang lembut dibandingkan daging yang keras, dan sayuran yang telah dimasak dibandingkan yang mentah.

Berapa lama akan berlangsung?

Kebanyakan “picky eater” akan berubah dengan bertambahnya usia. Setelah menginjak usia sekolah, anak akan mencoba bermacam makanan yang baru karena pengaruh teman sebayanya. Pada usia remaja, di mana nafsu anak bertambah, mereka akan mencoba untuk makan berbagai makanan yang baru.
Orang tua diharapkan tidak memaksa anak-anak untuk makan makanan yang tidak disukainya. Bila orang tua memaksakannya maka anak dapat memuntahkannya dan akan menyebabkan hilangnya perasaan menyenangkan pada saat makan. Hal ini pada akhirnya akan menurunkan nafsu makannya. Kemauan untuk mengenal makanan yang baru dapat diharapkan lebih baik setelah anak mulai menginjak usia remaja.

Apa yang bisa dilakukan?

Sebagai orangtua, hal-hal berikut dapat Anda lakukan:
  • Siapkan makanan utama yang disukai setiap anggota keluarga di rumah. Hindari makanan utama yang tidak disukai anak Anda. Beberapa anak tidak menyukai beberapa makanan yang dicampurkan bersama.
  • Berikan contoh yang baik. Anak akan selalu meniru kebiasaan orang tua. Bila pada saat makan orangtua makan dengan nafsu makan yang tinggi, anak tentu akan menirunya.
  • Biasakan dengan rutinitas dan disiplin. Sajikan makanan dan camilan pada saat yang kurang lebih sama setiap harinya. Biasakan dia makan 3 kali sehari dan mendapat 2 kali makanan kecil sehari. Sediakan jus segar atau susu di samping makanan, dan air putih di antara waktu makan dan camilan. Bila Anda memberikan susu atau jus terlalu banyak sepanjang hari, maka akan membuat nafsu makannya menurun.
  • Minta bantuan dari anak Anda. Pada saat berbelanja, mintalah anak Anda untuk memilih sayuran dan buah serta makanan lainnya yang sehat. Di rumah, libatkan dia waktu mencuci sayuran, mengaduk roti, menata meja makan, dsb.
  • Sesekali ijinkan untuk mengkonsumsi makanan pengganti. Bila anak menolak makanan utama, ijinkan untuk mengkonsumsi makanan pengganti, misalnya : sereal, yogurt, sandwich yang disiapkannya sendiri. Jika anak Anda hanya menyukai daging ayam, siapkan persediaan daging ayam di lemari es Anda.
  • Jangan menjadi “koki pribadi” anak Anda. JANGAN biasakan untuk memasakkan makanan khusus untuk anak Anda. Biasakan anak untuk memakan makanan yang disiapkan untuk sekeluarga. Bila Anda selalu memasakkan masakan khusus untuknya ketika dia menolak makanan yang telah disajikan di meja makan, dia akan menjadi lebih memilih-milih makanan.
  • Hargai kesukaan / ketidaksukaan anak terhadap makanan tertentu. Bila anak Anda tidak lapar, jangan paksa dia untuk makan. Bila anak tidak menyukai beberapa makanan tertentu (terutama bila makanan tersebut membuatnya muntah), jangan sajikan makanan tersebut kepadanya.
  • Jangan kawatir terhadap sayuran, berikan lebih banyak buah. Karena sayuran lebih susah dikunyah dan terkadang terasa pahit, seringkali anak tidak menyukainya. Kebanyakan sayuran dapat digantikan oleh buah-buahan dengan kandungan vitamin dan mineral yang sama baiknya. Anda dapat memberikan buah-buahan untuk menggantikan sayuran.
  • Jangan ijinkan untuk mengeluhkan makanan yang disajikan. Buat peraturan di rumah bahwa anak dapat menolak mengkonsumsi beberapa makanan yang tidak disukainya, tetapi anak tidak boleh mengeluh atau menggerutu di saat makan. Bila dia tetap mengeluh terus, masukkan dia ke kamarnya dan simpan makanannya. Bila dalam 1 jam dia merasa lapar dan minta makan, berikan kepadanya makanannya tersebut.
  • Berikan semangat pada anak untuk mencoba makanan baru. Rasa makanan juga merupakan hal yang perlu dipelajari oleh anak. Anak Anda akhirnya dapat menyukai suatu makanan yang sebelumnya tidak disukainya. Berikan waktu secukupnya pada anak untuk mengenal rasa makanan. Sajikan dalam porsi kecil suatu makanan yang baru berulang-ulang dalam hari yang berbeda, dan minta anak Anda untuk mencicipinya. Memberikan makanan yang baru pada saat anak sedang lapar akan lebih efektif.
  • Hindari tekanan atau hukuman pada saat makan. Jangan pernah menekan, merayu atau “menyuap” anak untuk menghabiskan semua makanan di piringnya. Jangan hukum dia bila menolak untuk mencicipi makanan yang baru. Memaksa atau menekannya hanya akan membuatnya lebih membenci makanan tersebut dan akhirnya akan memuntahkannya. Hal ini akan memperparah situasi dan membuatnya lebih membenci saat makan / makanan tersebut.
  • Jangan jadikan makanan penutup sebagai “suap”. Ijinkan anak untuk tetap mendapatkan makanan penutup, walaupun dia tidak menghabiskan makanan utama, selama dia mengkonsumsi makanan utama cukup banyak. Jangan berikan makanan yang manis sebagai suap. Makanan penutup tidak selalu harus manis, buah-buahan dapat dijadikan sebagai makanan penutup.
  • Jangan perpanjang waktu makan. Jangan biarkan anak tetap duduk berlama-lama di meja makan setelah semua anggota keluarga lainnya selesai makan. Hal itu akan membuat saat makan menjadi suasana yang tidak menyenangkan baginya. Berikan waktu tambahan 5-10 menit bila anak Anda masih ingin makan.
  • Ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Jadikan saat makan menjadi acara keluarga yang menyenangkan. Ajak anak untuk bercakap-cakap. Berikan waktu kepadanya untuk menceritakan aktivitasnya pada hari itu. Ceritakan hal-hal yang menyenangkan pada saat makan. Jangan jadikan saat makan sebagai saat untuk mengkritik atau memarahi anak Anda.
  • Buat makanan yang menyenangkan dan bersikaplah kreatif saat memasak.Sajikan brokoli dan sayuran lainnya dengan saos kesukaannya. Potong makanan menjadi berbagai macam bentuk. Sajikan makanan dengan berbagai warna alami yang menarik.
  • Hindari pembicaraan tentang makan. Hindari membicarakan apa yang anak Anda makan saat dia ada. Jangan berikan pujian bila dia makan dengan baik. Jangan berikan hadiah atau “suap” bila anak makan sesuai yang Anda inginkan. Sesekali Anda dapat memujinya bila anak Anda mau mencoba makanan yang baru yang tidak dia sukai sebelumnya. Anak harus dibiasakan makan untuk memenuhi kebutuhannya, bukan untuk menyenangkan orang tua.
  • Hindari gangguan saat makan. Matikan televisi dan gadget elektronik lainnya pada saat makan. Ini akan membantu anak lebih fokus pada saat makan. Iklan TV dapat membuat anak lebih menyukai makanan yang manis.
  • Berikan suplemen vitamin dan mineral sehari-hari. Bila anak tidak makan secukupnya untuk kebutuhan tubuhnya sehari-hari, Anda dapat memberikan suplemen multivitamin dengan dosis normal untuk usianya. Vitamin dapat meningkatkan nafsu makan anak, dan tentunya membuat orang tua lebih tenang dan tidak terlalu khawatir bila nafsu makan anak tidak terlalu memuaskan.

Kapan harus berkonsultasi dengan dokter?

Anda perlu berkonsultasi masalah “picky eater” pada anak Anda bila :
  • berat badannya terus menurun
  • anak selalu muntah setelah mengkonsumsi makanan tertentu
  • anak mengeluh nyeri pada ulu hati atau dada bagian tengah
  • Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut.

Jasa Konsultan Pendidin / Pendirian dan Managemen Sekolah

Jasa Konsultan Pendidikan / Pendirian dan Manajemen Sekolah
TK Aralia yang berlokasi Ruko Aralia blok HY 43 No.26-27 Harapan Indah Bekasi berada dibawah naungan Yayasan Harapan Indah Education Center. Saat ini anak didik TK Aralia telah mencapai hampir 100 siswa dan mulai tahun ajaran 2013, Yayasan Harapan Indah Education Center akan membuka SD Aralia dilokasi yang sama. 

Melihat perkembangan ini, para pendiri Yayasan semakin optimis bahwa lembaga pendidikan Aralia yang mulai dibuka sejak Mei tahun 2010 telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, padahal ketika pertama kali memikirkan ide untuk membuka usaha di bidang pendidikan, para pendiri Yayasan HIEC sempat ragu dan gamang karena tidak membayangkan bagaimana harus memulai suatu usaha di bidang pendidikan. 

Hal ini kemudian menginspirasi para pendiri Yayasan untuk membantu semua pihak yang ingin juga membuka lembaga pendidikan anak usia dini (KB / TK) dan Sekolah (SD-SMP-SMU), karena berdasarkan pengalaman baik pribadi maupun lingkungan, ternyata banyak pihak yang ingin membuka usaha pendidikan namun terkendala pengetahuan yang kurang mengenai bagaimana mengelola sebuah lembaga pendidikan, baik terkait perihal materi pengajaran, administrasi maupun manajemen sekolah. 

Pendiri Yayasan HIEC memahami betul semua keraguan dan kegamangan tersebut karena hal yang sama pernah dialami dan telah dilalui. Kini Yayasan HIEC bekerja sama dengan konsultan pendidikan ByLaws Indonesia menyediakan layanan jasa konsultasi pendidikan bagi pihak-pihak yang berkeinginan membuka lembaga pendidikan baik lembaga pra-sekolah (KB / TK) maupun lembaga sekolah. Jasa konsultasi tersebut meliputi, tapi tidak terbatas pada, penyusunan visi dan misi sekolah, penyusunan kurikulum, metode pengajaran, perekrutan guru hingga penyusunan strategi pemasaran sekolah. 

Selain untuk pihak-pihak yang ingin mendirikan sekolah, Yayasan HIEC dan ByLaws Indonesia juga memberikan jasa konsultasi bagi sekolah-sekolah yang sudah berdiri namun menginginkan penyusunan kembali kurikulumnya, pemutakhiran metode mengajar, pelatihan guru-guru dengan metode mengajar modern, penyusunan ulang visi dan misi sekolah hingga perekrutan guru-guru serta manajemen sekolah.

Usaha di bidang pendidikan merupakan sebuah bisnis dengan tujuan yang mulia, oleh sebab itu dalam mengelola bisnis di bidang pendidikan, diperlukan pendekatan-pendekatan tertentu yang mungkin berbeda dengan bisnis dibidang lainnya. Kami Yayasan HIEC dan ByLaws Indonesia akan membantu para calon pendiri sekolah maupun para pemilik sekolah yang sudah berjalan untuk menjadikan sekolah yang didirikan dan yang dikelola agar lebih fokus, berkarakteristik dan mempunyai brand image yang kokoh.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi konsultan pendidikan kami, Henky - 08161379986 / 021-92607828
atau Candy - 08159137731 / 021-70558699

Selasa, 05 Mei 2015

Bahaya Radiasi Ponsel Pada Manusia Khususnya Anak

Kemajuan teknologi telekomunikasi khususnya teknologi telepon seluler (ponsel) sangat luar biasa. Sehingga pemakaian handphone sangat luas di kalangan masyarakat tidak mengenal usia dan tingkat ekonomi. Bahkan hingga saat ini siapapun meski hanya dengan modal sedikit fapat memilikinya. Bukan hanya seorang berduit, bahkan seorang tukang ojek, loper koran, tukang parkir bahkan tukang becakpun sudah biasa memegang ponsel. Termasuk usia pemakaipun bukan hanya orang dewasa usia anak dan remaja adalah hal biasa sudah memegang ponsel saat sekolah.
Dibalik boomingnya gadget favorit itu ternyata tersembunyi dampak kesehatan sangat besar dapat terjadi pada manusia yang tidak pernah disadari. Berbagai penelitian menunjukkan radiasi ponsel dapat mengganggu beberapa organ dan sistem tubuh manusia. Gangguan ini akan lebih mudah dan lebih berat bila terjadi pada anak, karena ketidakmtangan beberapa oragan tubuh anak. Apa saja dampak kesehatan yang bisa terjadi dan bagaimana pencegahannya ?
Waspadai Blackberry
Pihak BlackBerry (BB) telah mengeluarkan pernyataan bahwa meletakkan smartphone itu di kantong bisa membahayakan kesehatan. Menurut buku panduan penggunaan BB, khususnya edisi Torch, disebutkan bahwa sebaiknya BB digunakan dengan sarungnya atau ditaruh di kantong lain yang terlepas dari pakaian. Setidaknya, ada jarak 25 mm antara BB dan tubuh ketika ponsel itu melakukan transmisi. BB yang ditaruh terlalu dekat dengan tubuh, terkecuali yang telah dipakaikan sarung resmi dari RIM, bisa menyebabkan gadget itu mengeluarkan frekuensi radio yang berlebihan dari ukuran standar. Panduan itu juga menyebut dalam jangka panjang, bila selalu terpapar BB secara dekat , akan menyebabkan masalah serius pada kesehatan. Ponsel seperti blackberry juga mendatangkan masalah. Menurut pakar kesehatan, ponsel cerdas ini tidak hanya mengganggu kesehatan fisik tetapi juga mental.
Menurut studi dari Rutgers University, blackberry sangat memicu ketergantungan sehingga membuat pengguna memerlukan terapi setara dengan terapi ketergantungan obat-obatan. Dengan kemampuan tetap terhubung selama 24 jam sehari tujuh hari seminggu, blackberry dan perangkat serupa memicu ketergantungan internet dan e-mail. Menurut peneliti, kondisi tersebut mempunyai efek buruk terhadap kesehatan mental. Apa yang membuat ketergantungan? Pesan atau e-mail yang langsung bisa diakses melalui blackberry, terang peneliti, membuat  tidak bisa lama-lama meninggalkan blackberry.  Dalam keadaan seperti itu secara tidak sadar selalu membuka blackberry, berharap menemukan pesan atau e-mail yang menyenangkan.
Bukan rahasia lagi bahwa kurang tidur berkualitas mempunyai efek buruk terhadap kesehatan mental. Padahal, mendapatkan tidur yang bagus tidak semudah yang Anda bayangkan. Dan kemampuan untuk memejamkan mata semakin rumit dengan hadirnya blackberry.  Serangkain percobaan menunjukkan bahwa mengirim pesan atau chatting melalui ponsel sebelum jam tidur bisa mengganggu pola tidur, memicu insomnia, sakit kepala dan kesulitan konsentrasi. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, hasil studi awal dari Uppsala University di Swedia menunjukkan bahwa radiasi sedikit saja dari ponsel bisa mengganggu tidur.  Sebuah penelitian yang didanai perusahaan-perusahan ponsel mengidikasikan bahwa radiasi dari handset dapat menimbulkan sejumlah gangguan seperti insomnia, sakit kepala dan pusing-pusing.  Radiasi juga dapat menurunkan durasi tidur lelap sehingga mengganggu kemampuan tubuh untuk memulihkan diri.
Ponsel khususnya blackberry dapat memicu kecemasan. Tidak bisa disangkal bahwa blackberry merupakan perangkat revolusioner. Gadget kecil ini bisa memenuhi semua kebutuhan komunikasi Anda. Tapi jika perangkat yang sama juga menyebabkan ketergantungan, merusak konsentrasi dan mengganggu tidur, tentunya blackberry juga akan membuat stress. Tingkat stress lebih parah jika Anda sangat bergantung terhadap blackberry dalam mengerjakan tugas sehari-hari.
Radiasi terhadap Otak
Radiasi ponsel telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan fungsi otak atau susunan saraf pusat. Gangguan ke otak tersebut meliputi mulai dari tumor hingga insomnia. Meskipun temuan studi masih bertentangan, bukti mulai menunjukkan adanya peningkatan risiko tumor otak di kalangan pengguna ponsel.
Para peneliti di National Radiology Protection Board, Inggris, mengatakan, radiasi elektromagnetik yang dihasilkan dari telepon gengam dapat merusak DNA dan mengakibatkan tumor otak. Orangtua seharusnya tidak memberikan telepon genggam pada anak-anak yang berusia 8 tahun atau di bawahnya sebagai tindakan pencegahan gangguan radiasi dari alat-alat tersebut. “Ketika menggunakan telepon genggam, 70-80 persen energi radiasi yang dipancarkan dari antena telepon itu diserap oleh kepala. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan, potensi dampak negatif dari penyerapan radiasi jangka panjang yang dipancarkan oleh telepon genggam. Sayangnya, hanya sedikit penelitian yang memfokuskan pada anak-anak,” ungkap Prof Henry Lai dari University of Washington, AS, seperti dikutip web MD Health.
Efek radiasi pada anak-anak sangat mengkhawatirkan karena otak yang masih berkembang sangat mungkin terkena radiasi. Tumor otak biasanya berkembang selama 30 sampai 40 tahun. Anak-anak yang menggunakan telepon genggam sejak remaja akan mempunyai periode waktu yang lebih panjang sebelum terlihat dampaknya. Seseorang tidak tahu apakah anak-anak lebih mudah terkena radiasi, sebaiknya menggunakan headset guna menjauhkan antena dari kepala.
Para ahli dari Karolinska Institute di Swedia dan Wayne State University di Amerika Serikat yang melakukan riset tentang radiasi ini dengan dukungan dana dari Mobile Manufacturers Forum.  Para ahli melibatkan sebanyak 35 pria dan 36 wanita berusia18 hingga 45 sebagai partisipan dalam penelitian.  Selama riset, beberapa partisipan dikondisikan untuk mendapatkan efek radiasi yang setara dengan jumlah yang diterima ketika seseorang menggunakan ponsel.  Beberapa partisipan lain juga harus menjalani kondisi serupa, namun tanpa diberi efek radiasi.  Setelah simulasi tersebut terungkap bahwa partisipan yang diberikan efek radiasi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk masuk ke tahap pertama dari beberapa tingkatan tidur nyenyak (deep sleep). Partisipan ini juga menghabiskan waktu sebentar saja pada tahap tidur paling dalam. “Riset mengindikasikan bahwa dengan pemberian efek radiasi di laboratorium menggunakan sinyal wireless 884 MHz  penting artinya komponen tidur untuk dapat memulihkan diri dari pengaruh buruk akibat pemakaian sehari-hari,” ungkap peneliti dalam kesimpulannya.  Salah satu peneliti, Profesor Bengt Arnetz, mengatakan “Riset ini mengindikasikan dengan kuat bahwa penggunaan ponsel berhubungan dengan perubahan khusus pada bagian otak yang berfungsi mengaktifkan dan mengkoordinasikan sitem stres. Teori lainnya yang muncul adalah adalah radiasi dapat mengganggu produksi  hormon melatonin, yang berfungsi mengatur ritme tubuh secara internal. Dari riset ini pun terungkap bahwa setengah dari total partisipan mengalami gangguan yang disebut elektrosensitif.  Mereka mengalami beberapa gejala seperti sakit kepala, gangguan fungsi kognitif akibat penggunaan ponsel. “Bukti-bukti sekarang semakin menguatkan bahwa kita seharusnya menangani masalah ini dengan cara yang sifatnya mencegah. Riset ini menganjurkan jika Anda memang harus menelepon di malam hari, akan lebih baik menggunakan telepon kabel, dan jangan simpan ponsel Anda di meja dekat tempat tidur,” ungkap Alasdair Philips direktur Powerwatch, yang  meneliti dampak bidang elektromagnet terhadap kesehatan.
Mike Dolan, direktur eksekutif  Mobile Operators Association, justru menilai hasil riset ini tidak konsisten dengan hasil penelitian lainnya. “Ini hanyalah sedikit bagian saja dari teka-teki ilmiah yang sangat besar. Ini hanyalah efek yang sangat kecil, seorang peneliti cenderung menilainya tidak lebih dari sebuah efek yang timbul dari secangkir kopi,” ungkapnya.
Sebuah riset selama enam tahun yang dilakukan UK Mobile Telecommunications dan Health Research Programme (MTHRP) di Inggris menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel tidak menimbulkan  risiko jangka pendek pada otak. Namun begitu, para peneliti mengatakan mereka tidak mengesampingkan adanya kemungkinan risiko jangka panjang  yang dapat menimbulkan kanker
Kanker Kelenjar Getah Bening
Menurut sebuah penelitian terbaru di Israel, pengaruh radiasi akibat penggunaan ponsel yang berlebihan berpotensi menyebabkan kanker kelenjar ludah. ndikasi terbaru akan pengaruh buruk ponsel, terungkap melalui hasil penelitian yang melibatkan sekitar 500 orang Israel yang mengidap kanker. Dalam penelitian ini, data penggunaan ponsel para partisipan dianalisis dan dibandingkan dengan 1.300 pemeriksaan kesehatan.Dari hasil analisis, partisipan yang biasa memakai ponsel dengan menempelkannya di satu sisi kepala selama beberapa jam tercatat 50% berisiko lebih besar mengidap kanker kelenjar ludah.  Riset mengenai pengaruh ponsel ini dipublikasikan dalam The American Journal of Epidemiology.
Penelitian tentang pengaruh ponsel memang sudah banyak dilakukan dan kebanyakan selalu memusatkannya pada risiko mengidap penyakit tumor. Dan tak jarang di antara riset tersebut tidak menemukan hubungan signifikan antara radiasi ponsel dengan risiko mengidap kanker. Menurut peneliti di Tel Aviv University,  penelitian-penelitian tersebut  cenderung selalu terfokus pada tumor otak, dan seringkali tidak  mengujinya untuk penggunaan jangka panjang. Kanker kelenjar ludah adalah jenis penyakit dengan prevalensi sangat rendah. Inggris misalnya, dari 230.000 kasus kanker yang ditemukan setiap tahunnya, hanya 550 kasus saja yang berhubungan dengan jenis yang satu ini.
Dr. Siegal Sadetzki yang memimpin riset ini mengatakan penggunaan ponsel di Israel tercatat lebih tinggi ketimbang negara lain di dunia. Fenomena ini memberikan keuntungan bagi riset karena peneliti dapat memantau pengaruhnya untuk  jangka panjang  atau pun dampak kumulatif yang akan terjadi. “Dibandingkan dengan penelitian lain, jumlah paparan pada radisi frekuensi radio yang kami pantau di sini lebih tinggi. Jika Anda mau, Anda akan melihat apa yang terjadi di mana pun lebih cepat terjadi di Israel,” ungkapnya.
Salah satu temuan kunci dari penelitian ini adalah penggunaan ponsel yang tinggi di wilayah pinggiran atau pedesaan ternyata memiliki dampak risiko lebih tinggi ketimbang di kota.  Hal disebabkan fakta bahwa penggunaan ponsel di area dengan sinyal lemah butuh pancaran radiasi yang lebih kuat supaya ponsel dapat berfungsi.
Namun Dr Sadetzki menekankan, satu penelitian saja tidak cukup untuk membuktikan suatu hubungan sehingga penelitian lanjutan perlu dilakukan. Meski demikian,  hingga bukti-bukti baru ditemukan, lanjutnya, pendekatan yang bersifat pencegahan tetap merupakan yang terbaik khususnya dikaitkan dengan penggunaan ponsel pada anak-anak.
Walau temuan baru dari Israel ini menunjukkan adanya dampak signifikan, sebuah penelitian terbesar dan terpanjang tentang ponsel lainnya justru tidak menemukan adanya peningkatan risiko jenis kanker apapun. Penelitian tersebut melibatkan 420.000 orang di Denmark, yang telah menggunakan ponsel selama kurang lebih 10 tahun. Dari riset itu terungkap fakta bahwa kasus kanker ternyata lebih rendah dari yang diperkirakan untuk ukuran riset sebesar itu.  Hal itu juga mengindikasikan bahwa ponsel tak memiliki dampak  pada perkembangan tumor
Mengganggu Sperma ?
Kaitan penggunaan ponsel dan kualitas sperma diungkap oleh para ahli melalui riset pendahuluan di Cleveland Clinic, Amerika Serikat. Dengan melibatkan 361pasien klinik, peneliti menemukan bahwa semakin lama pria menggunakan ponsel setiap hari, semakin menurun jumlah sel sperma dan semakin besar pula prosentase jumlah sperma abnormal.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility ini merupakan fakta lain yang mempertanyakan dampak potensial penggunaan ponsel atau alat-alat nirkabel terhadap kesehatan. Beberapa riset sebelumnya kerap menghubungkan radiasi ponsel dengan timbulnya gangguan kesehatan seperti penyakit susah tidur atau tumor otak.  Walau begitu, ada pula riset lainnya yang tidak menemukan hubungan ponsel dengan problem kesehatan. Yang menjadi kekhawatiran selama ini adalah energi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel secara teoretis dapat mempengaruhi sel-sel tubuh.  Apalagi juga digunakan dalam waktu lama, ponsel dikhawatirkan mengganggu jaringan dengan cara merusak  DNA.
Tetapi temuan para ahli di Cleveland ini tidak memberikan bukti bahwa radiasi ponsel dapat merusak sperma. “Hasil penelitian kami menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara penggunaan ponsel dengan penurunan kualita semen. Namun begitu, ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat,” ungkap pimpinan riset, Dr Ashok Agarwal. Dalam penelitiannya, Agarwal beserta tim meneliti sampel semen dari 361 pria yang mengunjungi klinik infertilitas selama sekitar setahun.  Peneliti juga mengadakan semacam kuisioner kepada seluruh partisipan untuk menanyakan soal kebiasaan menggunakan ponsel.
Secara umum, peneliti menemukan bahwa jumlah dan kualitas sel sperma cenderung menurun seiring meningkatnya jumlah waktu penggunaan ponsel. Pria yang dalam kuisioner mengaku menggunakan ponsel rata-rata empat jam sehari tercatat memiliki rata-rata jumlah sel sperma terendah serta jumlah sel normal/aktif terendah. “Kami mengasumsikan dari hasil penelitian ini bahwa penggunan ponsel yang berlebihan berhubungan dengan rendahnya kualitas semen,” kata Agarwal.  Tetapi apakah ponsel dapat secara langsung mempengaruhi kesuburan pria masih belum jelas.
Agarwal mengatakan, timnya juga saat ini tengah melakukan dua riset lanjutan untuk mempertegas asumsi tersebut. Pada riset pertama, peneliti  menyinari sampel semen dengan radiasi elektromagnetik dari  ponsel untuk melihat dan mengetahui dampak apa yang akan terjadi.  Sedangkan pada riset kedua,  peneliti akan meneruskan riset awal dengan melibatkan jumlah pria yang lebih banyak. Menurut Agarwal, riset ini juga akan memperhitungkan faktor lain yang akan mempengaruhi seperti gaya hidup (lifestyle) serta risiko yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mempengaruhi kualitas sperma
Mengganggu Lebah Madu
Bukan hanya mengganggu kesehatan manusia ponsel ternyata bisa menyebabkan penurunan tajam dari populasi lebah madu. Sebab sinyal dalam telepon seluler menyebabkan radiasi pada koloni lebah. Para peneliti India yang berasal dari University of Punjab telah melakukan sejumlah uji coba dengan memasang satu dah dua sarang dengan dua ponsel. Ponsel tersebut dinyalakan selama lima belas menit selama dua kali sehari. Sementara sarang yang lainnya ditaruh ponsel mainan atau dummy. Setelah tiga bulan, mereka menemukan bahwa jumlah lebah dalem sarang yang dilengkapi dengan ponsel berkurang drastis. Lebah madu berperilaku aneh, ada lebih sedikit telur, dan tidak menghasilkan madu. Perubahan perilaku lebah serupa telah diamati di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Koloni dari lebah-lebah tersebut hanya meninggalkan sarang, tidak pernah kembali. Fenomena ini dikenal sebagai koloni gangguan yang menyebabkan keruntuhan. “8iasanya runtuhnya koloni sebelumnya disebabkan oleh virus, parasit, pestisida, menggunakan tanaman rekayasa genetik dan perubahan iklim,” kata para peneliti. “Laporan seperti runtuhnya koloni di alam di negara-negara berkembang seperti India, karena radiasi elektromagnetik (EMR) berbasis teknologi relatif baru bahkan cenderung tidak ada. Namun, hal ini dimungkinkan bahwa EMR yang berlaku di negara-negara maju memengaruhi populasi lebah di negara tersebut, ujarnya menambahkan. “Kami beruntung bahwa lonceng peringatan sudah berbunyi dan hal itu bagi kita dapat digunakan merencanakan strategi yang tepat untuk menyelamatkan bukan hanya lebah, tetapi hidup dari efek buruk tersebut,” ujar ilmuwan di India, menyimpulkan hasil penelitian tersebut
Beberapa tips sederhana yang sangat membantu agar dapat mengurangi dampak bahaya radiasi ponsel bagi tubuh:
  • Karena fungsi tubuh dan orag tubuh bayi dan anak belum sempurna sebaiknya jangan meaktifkan ponsel dekat bayi atau anak. Dampak kesehatan radiasi pionsel terhadap bayi dan anak lebijh besar dibandingkan pada orang dewasa.
  • Jika memungkinkan sebaiknya menggunakan peralatan tambahan seperti misalnya headset ketika berbicara di telepon. Karena walaupun dengan menggunakan headset tidak 100 persen menghilangkan radiasi, tapi setidaknya mengurangi radiasi itu sendiri! Atau jika memungkinkan sebaiknya menggunakan fasilitas loudspeaker. Kemudian jika memilih untuk menggunakan headset maka usahkan agar ponsel jauh dari tubuh.
  • Jika tidak memungkinkan menggunakan fasilitas loudspeaker atau tool bantuan seperti headset, maka sebaiknya mengurangi bicara di telepon dan sebaliknya lebih banyak mendengar. Ponsel yang digunakan tersebut umumnya akan memancarkan radiasi ketika digunakan untuk SMS atau ketika bicara. Tetapi tidak akan memancarkan radiasi jika cukup mendengarkan lawan bicara saja sewaktu digunakan untuk telepon!
  • Sebisa mungkin jika masih bisa SMS, sebaiknya jangan telepon. Selain untuk ngirit pulsa, energi yang dibutuhkan untuk SMS lebih kecil jika digunakan untuk telepon.
  • Terkadang bila berada ke daerah yang lemah sinyal, biasanya jika hp digunakan untuk menelpon maka sinyalnya akan lemah. Dalam keadaan sinyal lemah maka ponsel akan semakin kuat memancarkan radiasi untuk mencari sinyal lemah tersebut, Selain itu keadaan seperti ini juga menyebabkan baterai cepat kosong. Sehingga sebaiknya hindari penggunaan ponsel jika sinyalnya lemah.
  • Terkadang karena alasan sayang dan ingin ponsel yang dimiliki tetep awet, maka sering menggunakan cashing tambahan atau pelindung tambahan. Jika menggunakan pelindung tambahan dan digunakan untuk telepon maka sinyal akan terperangkap dan handphine akan memancarkan radiasi yang lebih kuat untuk menemukan sinyal yang stabil. .
  • Hindari penggunaan Ponsel dari anak-anak, karena perkembangan otak anak-anak yang belum sempurna dapat menyerap bahaya radiasi ponsel lebih cepat dan lebih banyak dari pada orang dewasa .
Sumber :
News.co au
askmen.com
Blackbery.com
klinikanakonline.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews | Promo by Seputar Harapan Indah DOTcom