Selasa, 24 Maret 2015

Pentingkah memantau tumbuh kembang anak?

Tumbuh kembang mengandung 2 pengertian, yaitu bertumbuh dan berkembang, Bertumbuh berarti bertambah massa dan ukuran, yang secara obyektif dapat kita ketahui melalui penimbangan berat badan, pengukurangan panjang/ tinggi badan, dan pemantauan lingkar kepala setiap bulannya. Berkembang adalah bayi/ anak mengalami penambahan keterampilan/ kemampuan, baik dibidang motorik kasar, motorik halus, personal-sosial, dan wicara.
Dalam praktek sehari-sehari, setiap bayi dengan asuhan keperawatan ideal, termasuk pemberian imunisasi rutin sesuai jadwal, pasti akan selalu diukur penambahan berat dan tinggi badan, serta lingkar kepala. Pengukuran ini merupakan standar pelayanan kesehatan bayi dan anak di posyandu, puskesmas, rumah sakit, atau klinik kesehatan anak manapun. Biasanya dokter akan menjelaskan kepada orangtua apakah peningkatan berat, tinggi, dan lingkar kepala bayi/ anak dalam skala normal.
Lalu bagaimana dengan perkembangan?
Pemantauan perkembangan adalah untuk mengetahui adanya gangguan perkembangan seorang bayi/anak SEBELUM gangguan itu terjadi. Jadi pemantauan ini tidak dimaksudkan untuk mengobati gangguan perkembangan yang telah terjadi. Terdapat beberapa ‘pakem’ yang dapat digunakan dokter secara cepat untuk menilai tumbuh kembang seorang bayi/ anak. Untuk penilaian yang lebih teliti dapat digunakan alat bantu (tools) yang telah dirancang sesuai dengan kelompok usia dan spesifik untuk kemampuan bidang/ ranah tertentu.
Orangtua dapat melakukan sendari pemantauan tumbuh kembang ini dengan menggunakan alat bantu berupa Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) . Kuesioner ini memantau tumbuh kembang balita hingga usia 5 tahun, dengan jeda waktu per 3 bulan.
Pemantauan tumbuh kembang di rumah sakit atau klinik spesialis anak dilakukan dengan tools yang disebut Denver II. Berbeda dengan KPSP, Denver II mempunyai ‘garis umur’ sehingga dapat dilakukan pada usia berapapun. Pemeriksaan perkembangan menggunakan Denver II idealnya dilakukan setiap 3 bulan, sama seperti KPSP. Denver II mempunyai pertanyaan spesifik untuk penilaian ranah spesifik pula. Biasanya pemeriksaan ini tidak dilakukan pada kunjungan rutin imunisasi bulanan, melainkan dengan perjanjian. Pemeriksaan perkembangan Denver akan cukup menyita waktu dan tidak semua rumah sakit dengan pelayanan kesehatan anak umum mempunyai perangkat Denver II.
Untuk anak dengan kecurigaan kondisi tertentu juga terdapat tools yang spesifik. Misalnya kecurigaan autism pada anak dapat dilakukan skrining dengan CHAT (checklist for autism in toddler); gangguan perilaku berupa kondisi mental dan emosional dilakukan skrining KMME (kuesioner masalah mental emosional); gangguan pemusatan perhatian dengan kuesioner GPPH (gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas), dan sebagainya. Berbagai skrining ini biasanya hanya dapat dilakukan di klinik tumbuh kembang tertentu.
Penting untuk ditekankan kembali bahwa skrining bertujuan untuk mendeteksi kelainan perkembangan secara dini, sebelum tanda atau gejala kelainan tersebut tampak. Berbagai alat skrining perkembangan mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing, sehingga diperlukan interpretasi yang tepat agar tidak terjadi kesalahan deteksi. Hasil skrining tidak berupa suatu diagnosis, melainkan berupa rekomendasi bahwa perkembangan anak normal atau untuk dapat dilakukan pemeriksaan perkembangan lebih lanjut apabila terindikasi.

Kenapa Susu Sapi Menyebabkan Alergi pada Bayi?

Alergi susu sapi terjadi akibat adanya reaksi imunologi terhadap satu atau lebih protein susu sapi. Laporan angka kejadian alergi susu sapi (ASS) pada bayi sangat bervariasi, 1-17%. Cukup lebarnya rentang prevalensi ASS disebabkan perbedaan populasi yang diteliti dan dan kriteria diagnostik yang digunakan. Dalam rentang 1 tahun, 50% kasus ASS akan membaik, dan 80-90% anak ASS akan menjadi normal dalam 5 tahun. Data di Amerika dikatakan, kecurigaan orangtua adanya kondisi ASS pada anak mereka ternyata 4 kali lebih besar daripada yang sebenarnya.
Apa yang menyebabkan anak menjadi alergi terhadap susu sapi? Susu sapi mengandung 3,3% protein, berupa kasein (80%) dan whey (20%). Protein whey terutama terdiri dari b laktoglobulin dan diduga merupakan alergen utama penyebab terjadinya ASS. Protein ini tidak ditemukan pada ASI. Beta-laktoglobulin dalam susu sapi yang tidak dicerna dalam lambung bayi karena belum matangnya fungsi sistem pencernaan (jumlah dan fungsi asam lambung serta enzim pencernaan), akan diserap oleh dinding usus halus dan masuk ke peredaran darah tubuh. Akibatnya tubuh yang mengenali adanya protein asing akan bereaksi menghasilkan antibodi alergi (immunoglobulin E/ IgE) sehingga muncullah berbagai gejala alergi.
Timbulnya reaksi alergi terhadap protein susu sapi, disebabkan karena karakteristik dari suatu protein. Protein terbuat dari rangkaian asam amino tertentu, yang terikat satu sama lain dengan ikatan peptide. Sedikit perbedaan pada urutan atau ikatan asam amino suatu protein, akan membedakan jenis dan potensi alergi protein tersebut. Penelitian menemukan bahwa protein yang terdiri dari minimal 14 rangkaian asam amino, dapat berpotensi menimbulkan alergi. Selain itu, potensi alergi protein juga ditentukan oleh berat molekul protein itu sendiri. Protein dengan berat molekul lebih dari 3000 Dalton akan mempunyai potensi untuk menstimulasi kondisi alergi.
Tata laksana utama pada alergi adalah penghindaran sumber alergi tersebut. Badan kesehatan dunia-WHO, dan berbagai lembaga persatuan dokter anak di seluruh dunia, merekomendasikan pemberian ASI sebagai upaya pertama dan utama pada pencegahan ASS. Pada kondisi pemberian ASI tidak dimungkinkan, atau alergi yang timbul disebabkan oleh serangkaian protein yang terdapat pada ASI, maka dapat diberikan susu formula khusus. Diagnosis alergi susu sapi hendaknya ditegakkan oleh dokter untuk menghindari pembatasan makanan anak yang sebenarnya tidak perlu.
Sumber:
  1. Caffarelli C, Baldi F, Bendandi B, Calzone L, Maranis M, Pasquinelli P. Cow’s milk protein allergy in children: a practical guide. Ital J Pediatr.2010;36:1-7.
  2. DeGreef E, Hauser B, Devreker T, Veereman-Waters G, Vandenplas Y. Diagnosis and management of cow’s milk protein allergy in infants. World J Pediatr. 2012;8:19-24.
  3. Giovanna V, Carla C, Alfina C, Domenico PA, Elena L. The immunopathogenesis of cow’s milk protein allergy (CMPA). Ital J Pediatr. 2012;38:1-5.
  4. Carbery. Allergenicity and whey protein. [diakses 12 September 2012]; diunduh darihttp://www.carbery.com/documents/ Allergenicity.pdf.

Sesuaikan Jenis Makanan dengan Perkembangan Motorik Anak

Asuhan nutrisi mempunyai peran yang sangat penting pada tumbuh kembang dan kesehatan anak. Untuk memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, perlu diketahui jenis, konsistensi, dan cara pemberian makan pada anak. Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan kemampuan motorik anak, terutama motorik oral.
Pada 1 tahun pertama, bayi berkembang dengan pesatnya. Hal ini diikuti dengan perlunya dilakukan perubahan jenis dan tekstur makanan bayi. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi, ibu dapat mengamati munculnya tanda2 berikut sebagai salah satu indikator kesiapan sang buah hati untuk jenis makanan yang baru.

UsiaKemampuan motorik oralDiet
0-3 bulanMenghisap dan menelan(suck and swallow)Cairan :ASI atau susu formula
4-7 bulanMenggerakkan lidah ke atas dank e bawahDuduk dengan bantuanMenelan makanan semi solid tanpa tersedakMembuka mulut saat melihat makananMinum dari cangkir dengan bantuan, sedikit tumpahMakanan semi solid:
  • bubur susu
  • sereal bayi
  • buah
  • sayur
8-11 bulanMenggerakan lidah dari satu sisi ke sisi lain. Menggunakan sendok dengan bantuan. Mengunyah dan mulai tumbuh gigi. Dapat memegang makanan dan dengan jari berusaha makan sendiri. Minum dari cangkir dengan bantuan, masih tumpahMakanan yang lebih dengan tekstur kasar
  • nasi tim kasar
  • buah atau sayur yang dipotong kasar
  • telur
  • keju, roti, biscuit
  • kacang-kacangan yang ditumbuk kasar

Sumber: Infant development and feeding skills. http://www.fns.usda.gov/tn//Resources/feedinginfants-ch2.pdf

Perkembangan kemampuan bayi sehubungan dengan pilihan pemberian nutrisi pada bayi merupakan pedoman umum. Artinya orangtua juga perlu menyadari bahwa setiap anak mempunyai corak dan kecepatan tumbuh kembang yang khas untuk sirinya sendiri. Selain itu juga perlu ditekankan bahwa hingga saat ini air susu ibu (ASI) merupakan pilihan sumber nutrisi terbaik buat bayi hingga usia 6 bulan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews | Promo by Seputar Harapan Indah DOTcom