Minggu, 14 Desember 2014

Lomba Membuat Boneka Salju

13 Desember 2014, lomba membuat boneka salju yang diadakan oleh Aralia School berjalan dengan lancar. Banyak anak - anak yang antusias berpartisipasi mengikuti lomba membuat boneka salju, dan menuangkan kekreatifitasan mereka dalam membuat boneka salju . Berikut adalah kegiatan saat lomba :



Pembuatan boneka salju 
Foto anak bersama boneka salju buatannya
Hasil karya anak - anak dalam membuat boneka salju
Penyerahan hadiah kepada pemenang kategori
 usia 3-4 tahun dan kategori usia 5-6 tahun
Pemenang lomba membuat boneka salju

Foto bersama

Selasa, 09 Desember 2014

HIEC Berbagi - Peduli Korban Kebakaran Karang Anyar, Jakarta Pusat

5 Desember 2014 , Sekitar pukul 23.00 terjadi kebakaran di Rw 06 Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Menyebabkan 270 bangunan habis dilalap si jago merah. Penyebabnya diperkirakan hubungan arus pendek.

Akibatnya ribuan orang terpaksa mengungsi, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Kebakaran tersebut baru bisa dipadamkan pukul 03.00 dini hari. Sebanyak 20 unit mobil pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana dikerahkan untuk memadamkan api.

Berbagai bantuan diberikan kepada pengungsi korban kebakaran di Karang Anyar. Salah satunya adalah yayasan HIEC (Harapan Indah Education Center). Sumbangan yg diberikan berupa : Susu bubuk, pampers, minyak telon, obat-obatan, sabun mandi, sabun cuci, odol, sikat gigi, makanan bayi, celana dalam, dll.
Lokasi Kebakaran

Sumbangan yang diberikan

Lokasi penampungan






Kamis, 04 Desember 2014

Membantu Anak Mengatasi Rasa Takut




        Setiap anak kecil pasti memiliki rasa takut, dalam kadar yang berbeda-beda. Ketakutan ini ada yang wajar dan ada juga yang tidak. Adalah tugas kita, sebagai orang tua untuk membantunya mengatasi rasa takut ini. Walaupun kesannya sepele, namun sebenarnya mampu tidaknya orang tua membantu anak untuk mengatasi ketakutan dan membangun keberanian ini  memiliki dampak yang besar di kemudian hari. Anak yang kurang berhasil mengatasi ketakutan-ketakutan masa kecilnya, biasanya cenderung menjadi penakut dan kurang percaya diri dikemudian hari. Sebaliknya anak yang dapat mengatasi ketakutan masa kecilnya biasanya tumbuh menjadi berani dan punya percaya diri.

        Rasa takut sendiri sebenarnya adalah hal yang normal, dan hal yang dapat dipahami. Justru rasa takut inilah yang membuat anak dan kita sendiri menjadi terhindar dari berbagai bahaya.  Secara tidak sadar bahkan kita sebagai orang tua sering  kali mengajarkan anak untuk takut. Sering kita berkata “ Awas nanti jatuh !” atau juga, “Awas, hati-hati kalau menyeberang jalan, nanti tertabrak mobil yang lewat!” Dengan berkata seperti itu pada anak,sebenarnya kita mengajari anak untuk menggunakan rasa takutnya agar berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Dalam batas  orang tua  tidak menakut-nakutinya secara berlebihan, tidak jadi masalah, bahkan bisa membuat anak untuk lebih berhati-hati dalam segala hal.

        Namun ada kalanya orang tua sudah kehabisan akal untuk mengatur anaknya, dan akhirnya menakut-nakutinya secara berlebihan supaya anaknya menurut. Misalnya mengacam kalau tidak mau makan nanti akan dimakan raksasa, atau semacamnya. Walaupun tidak selalu, kalau hal seperti ini berlebihan, bisa jadi malah anak jadi penakut. Jadi kita harus ingat, bahwa yang kita tanamkan di sini adalah supaya anak berhati-hati kalau melakukan sesuatu, bukan menggali ketakutan terhadap  imajinasinya tentang monster, raksasa, binatang buas, dan sebagainya yang mengancam dirinya. (Termasuk yang paling saya pribadi tidak setuju adalah orang tua yang menakuti-nakuti "Awas kalau tidak  mau makan disuntik sama dokter!" karena ini justru membuat anak susah kalau mau dibawa ke  dokter)

        Dalam penelitian yang pernah dilakukan di Amerika, berbagai ketakutan yang ada dalam diri orang dewasa, ternyata memang berkaitan dengan masa kecilnya, atau sudah ada sejak masa kecilnya tak pernah mau hilang.  Ketakutan ini antara terhadap gelap, takut sendirian, takut terhadap penolakan, takut  terhdap kegagalan, takut terhadap dokter, takut pada binatang, takut berbuat salah, dan lain sebagainya

Takut akan kegelapan
        Biasanya ketakutan akan kegelapan timbul ketika orang tua mengharuskan anak tidur dalam kamarnya yang benar-benar gelap, atau bila anak terbangun di tengah malam, dalam keadaan kamarnya yang gelap gulita. Pada beberapa anak, bahkan dapat menjadi berdebar-debar ketakutan dengan hebatnya di saat berada dalam kegelapan. Orang tua harus menyadari  bahwa ruangan yang gelap gulita bagi anak kecil akan tampak berbeda sekali dibandingkan bila masih diterangi oleh lampu penerangan. Dan orang tua harus memahami ketakutan mereka ini, bahkan walaupun ketakutan itu terkesan tidak masuk akal, dan orang tua juga harus berusaha meyakinkan anak bahwa tak ada apa-apa yang perlu ditakutkan. Berikut ini beberapa tips yang dapat digunakan :

- Gunakanlah lampu penerangan yang kecil, yang banyak dijual di toko-toko. Lampu ini sekedar menjadikan kamar tidak gelap sama sekali, tetapi masih nyaman untuk tidur. Akan tetapi saat memasang lampu inipun, perhatikan juga jangan sampai malah menimbulkan bayangan yang menakutkan bagi anak.
-Saat anak hendak tidur, temanilah ia sebentar, setelah lampu dimatikan. Ajak anak berbincang-bincang sebentar, buat anak merasa nyaman dan terbiasa dengan keadaan yang gelap tersebut. Setelah anak merasa nyaman dan tidak takut lagi, ia sudah dapat ditinggal
- Buka sedikit pintu kamarnya, dan yakinkan ia bahwa kita tak akan jauh-jauh darinya dan akan selalu ada bila diperlukan.
- Jika ia terbangun  di tengah malam, jangan biasakan ia untuk  tidur di kamar orang tuanya, apalagi bila anak sudah agak besar. Bila tidak,hal ini akan semakin menjadi kebiasaan, dan menjadi semakin sulit untuk menghilangkannya. Sebaiknya buatlah ia merasa aman dan nyaman  untuk kembali ke kamarnya, dan katakan padanya bahwa orang tuanya  bangga bila anakknya sudah cukup dewasa untuk bisa tidur sendiri di kamarnya.

Takut  pada binatang

         Ketakutan pada binatang hampir dialami oleh setiap anak kecil, namun biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan pertambahan usianya. Berikut ini beberapa tips yang membantu anak untuk tidak takut terhadap binatang :
-   Jangan pindahkan ketakutan kita sendiri pada anak. Jadi jangan takut-takuti anak secara berlebihan atau malah membuatnya tambah takut terhadap binatang.
-   Identifikasi apa yang membuat anak menjadi takut,  dan apa alasannya.
-   Ada baiknya bila  membiasakan anak yang sudah agak besar untuk memiliki binatang peliharaan. Dengan demikian anak menjadi biasa merawat dan bermain dengan binatang. Namun harus diingat untuk memilih hewan peliharaan yang tidak lebih besar darinya, dan tidak berbahaya baginya.
-   Jangan biarkan anak untuk bermain dengan binatang dengan cara yang menyakiti atau menyiksa binatang tersebut. Hal ini dapat menyebabkan binatang piaraan yang tadinya jinakpun menjadi marah dan menyerang si anak.
-   Jangan paksa anak untuk memelihara binatang tertentu, tapi biarkanlah ia sendiri yang menentukan dan ia akan memeliharanya dengan senang hati, bukan menjadi beban. Bila memang ia tak mau memelihara binatang, biarlah tidak usah memaksanya.
        Ketakutan seorang anak kadang kala bagi orang dewasa  sangat tidak masuk akal, dan terkesan mengada-ada. Akan tetapi kita harus berusaha mengerti apa yang dirasa dan ada dalam bayangan  si anak. Dengarkanlah cerita si anak,  biarkan dia mengutarakan semuanya sampai selesai, dan jangan dikomentari dahulu. Cobalah mencari secara spesifik  apa sebenarnya yang membuatnya takut. Berikanlah empati baginya sehingga ia merasa didukung. Dari situ kita akan lebih mudah untuk membantunya mengatasi ketakutannya….  Satu hal yang sering terlupa, bahwa saat kita kecilpun  kadang kita mengalami suatu ketakutan yang mungkin agak berbeda bentuknya tapi sebenarnya serupa dengan anak kita… Jadi jangan salahkan anak, tapi dukung dan bantulah ia.

 sumber : anaksehat.org

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews | Promo by Seputar Harapan Indah DOTcom